| |
INTRODUCING THE HISTORY OF LEADERSHIP
Abstrak:
Kepemimpinan adalah suatu gejala universal yang secara defacto sudah ada sejak waktu yang lama dan dijalankan dalam kurun yang panjang. Kepemimpinan sebagai gejala universal ini terbukti telah dipraktekkan sebagai suatu seni dalam kehidupan semua kelompok orang, baik dalam masyarakat modern, maupun dalam masyarakat terasing di segala tempat. Namun demikian, pada sisi lain, kepemimpinan sebagai suatu ilmu usianya relatif baru. Pertanyaan awalnya ialah mengapa sampai demikian? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan dikembangkan dalam tulisan ini, untuk menelusuri sejarah perkembangan ilmu kepemimpinan.
PERSPEKTIF PERKEMBANGAN ILMU KEPEMIMPINAN
Melihat dari sudut pandang seni, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah seni yang usianya setua usia manusia di bumi, yang telah dipraktekkan dalam sepanjang sejarah manusia. Kebenaran tentang kepemimpinan yang telah dipraktekkan dalam sepanjang sejarah ini ditegaskan oleh Bernard M. Bass yang mengatakan, “The study of leadership is an ancient art. Discussion of the subject will be found in Plato, Caesar, and Plutarch, just to mention a few of classical era. The Chinese classics are filled with hortatory advice to the county’s leaders. The ancient Egyptians attributed three qualities of divinity to their king. They said of him ‘authoritative utterness is in thy mouth, perception is in thy heart, and thy tongue is the shrine of justice.’ The Egyptians demanded of their leader qualities of authority, discrimination, and just behavior.” Dari penjelasan Bass di atas dapat dikatakan bahwa berdasarkan fakta, seni kepemimpinan itu telah ada serta diterapkan secara umum, karena kepemimpinan itu adalah seni yang bersifat universal.
Sebagai seni, kepemimpinan telah dipraktekkan oleh penguasa-penguasa dunia zaman kuno sampai kepada penguasa dari kerajaan-kerajaan tua di Timur Jauh, serta kelompok masyarakat-budaya lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan pula bahwa sebagai seni, kepemimpinan pun telah dipraktekkan oleh tokoh-tokoh dunia yang besar dan terkenal yang berkiprah dalam segala bidang kehidupan, namun, karya-karya besar mereka yang gemilang tidak dapat diklasifikasikan secara penuh sebagai karya dasar bagi ilmu kepemimpinan.
Dalam upaya menempatkan kepemimpinan pada jalur ilmu, maka langkah awal yang perlu pahami adalah lingkup dari kepemimpinan. Sebagai suatu ilmu, bidang studi kepemimpinan memiliki tiga lingkup utama, yaitu: Pertama, elemen dasar kepemimpinan yang meliputi pemimpin, orang yang dipimpin dan situasi kepemimpinan. Kedua, doktrin dasar kepemimpinan yang meliputi perlengkapan dasar kepemimpinan (perilaku pemimpin serta sumber-sumber) dan nilai dasar kepemimpinan (nilai yang bersifat teologis dan filosofis). Ketiga, pekerjaan atau tugas dasar kepemimpinan (yang meliputi: esensi, sifat, unsur ekonomi dan lokasi kepemimpinan).
Berkaitan dengan menempatkan kepemimpinan dalam jalur ilmu seperti yang disinggung di atas, maka tugas kedua ialah mengukur karya tulis para tokoh sejarah tentang kepemimpinan. Dalam sepanjang sejarah kepemimpinan, dapat dikatakan bahwa kebanyakan karya tulis mengetengahkan pemahaman tentang kepemimpinan secara terbatas dengan menyinggung trait atau karakteristik-karakteristik serta kecakapan dan nilai-nilai kepemimpinan saja. Satu-satunya tokoh sejarah yang menuliskan tentang kepemimpinan yang dapat diambil sebagai dasar utama bagi ilmu kepemimpinan adalah karya tulisnya, Thomas Carlyle. Tulisan Carlyle yang berjudul “On Hero and Hero Worship” memberikan tempat yang luas bagi aspek-aspek dan unsur-unsur dasar kepemimpinan yang lengkap, yang membuktikan bahwa karyanya ini adalah tonggak sejarah bagi perkembangan ilmu kepemimpinan.
SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU KEPEMIMPINAN
Telah disinggung secara umum bahwa kepemimpinan sebagai seni sudah dipraktekkan oleh para pemimpin disemua tempat pada segala waktu di sepanjang sejarah yang ditandai dengan karya-karya besar mereka. Karya besar para pemimpin dimaksud mulai dari era klasik sampai zaman modern yang mewujudkan kinerja kepimpinan yang luarbiasa dalam sepanjang sejarah. Dari karya-karya tulis yang berkembang sejak era Carlyle, ada indikator kuat tentang adanya penerapan seni kepemimpinan secara universal. Dari tataran sosio-kultural, dapat pula diidentifikasi akan adanya penerapan seni kepemimpinan dengan melihat adanya peran pemimpin yang dijalankan dalam setiap kelompok. Dalam sejarah di dunia Barat, diakui bahwa istilah leader atau pemimpin itu telah ada dalam kamus berbahasa Inggris sejak tahun 1300, tetapi penggunaan istilah kepemimpinan itu baru saja ada pada pertengahan abad ke sembilanbelas. Dalam studi Timur klasik pun sudah ditemukan adanya upaya penerapan seni kepemimpinan dalam peran pemimpin serta upaya perkembangan pemimpin. Namun dapat dilihat adanya indikasi kecenderungan yang sama yaitu belum adanya konsep baku tentang kepemimpinan sebagai suatu ilmu yang dikembangkan serta diterapkan secara ilmiah.
Upaya mengidentifikasi perkembangan ilmu kepemimpinan telah dilakukan oleh, Profesor Dr. J. Robert Clinton dari Fuller Theological Seminary, School of Inter-cultural Studies yang membuat klasifikasinya kedalam beberapa era perkembangan berikut ini.
- Great Man Era, yang meliputi tahun 1841-1904.
- Trait Era, yang meliputi tahun 1904-1948.
- Behavior Era, yang meliputi tahun 1948-1967.
- Contingency Era, yang meliputi tahun 1967-1980.
- Complexity Era, yang meliputi tahun 1980-1986, dst.
Penggolongan di atas ini tidaklah meniadakan kenyataan penerapan seni kepemimpinan seperti yang telah disinggung di terdahulu, karena berdasarkan kenyataan bahwa kepemimpinan telah diterapkan secara universal sebagai suatu seni. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Great Man Era yang disinggung oleh Clinton yang penerapannya ternyata melingkupi waktu kepemimpinan era klasik, yang meliputi 2500 tahun sebelum Masehi (yang diketahui secara pasti berdasarkan informasi sejarah), awal tahun masehi, sampai pertengahan abad ke sembilanbelas yang berujung pada karya Thomas Carlyle, memasuki abad ke duapuluh (1904). Dalam Trait Era (1904-1948) ilmu kepemimpinan cenderung bergerak pada tataran teoretis, dimana penekanan tentang ilmu kepemimpian begerak secara ekstensif seputar lingkup teori yang bersifat fenomenal. Dalam pengembangan teori kepemimpinan pada era ini, para pakar cenderung mengembangkan landasan teori seputar pemimpin dan karakteristik-karakteristik kepemimpinan khas yang ada pada para pemimpin. Karakteristik-karakteristik kepemimpinan dimaksud menunjuk kepada beberapa fenomena sebagai indikator pentingnya. Memasuki era behavioral, era contingency dan era complecity, para teorisian mulai menyadari pentingnya memahami hubungan interaktif di antara pemimpin, orang yang dipimpin dan varibel situasi yang situasional, serta faktor-faktor kompleks lain sebagai turut menentukan efektivitas, efisiensi dan kesehatan hubungan dalam optimalisasi kepemimpinan.
Dalam upaya mengembangkan pemahaman tentang sejarah dan perkambangan ilmu kepemimpinan, seperti yang disinggung di atas ini, sangatlah diperlukan adanya pandangan yang bersifat terbuka dari setiap pembelajar, karena pandangan terbuka seperti inilah yang akan menolongnya untuk mendalami studi kepemimpinan yang telah berkembang dengan sangat pesat seperti yang diuraikan di atas yang terbukti telah mempengaruhi segala bidang hidup. Perkembangan dan pengaruh ini nampak dalam indikator fenomenal pada masa kini, dimana pemimpin dan kepemimpinan tidak sekedar diedintifikasi dengan sebutan tradisional seperti kepemimpinan atau pemimpin visioner, kharismatik, reformatif, transformatif, futuristik, dan sebagainya, tetapi juga disebut dengan kepemimpinan serta pemimpin pos-mo, informatif, global, dan seterusnya.
Kenyataan lain yang menunjuk kepada kepentingan studi kepemimpinan ini ialah bahwa kepemimpinan yang ternyata dibutuhkan dalam segala bidang kehidupan itu, haruslah digumuli dengan sungguh-sungguh sebagai dasar bagi pembuktian keberhasilan hidup dan kinerja dari semua pemimpin pada setiap organisasi. Kebenaran ini didasarkan atas hakikat ilmu kepemimpinan itu sendiri sebagai suatu lmu kemanusiaan yang lugas dan terbuka, yang menyebabkan kepemimpinan dapat disebut sebagai ilmu ujung tombak. Sebagai ilmu ujung tombak, kepemimpinan tidaklah berdiri sendiri, karena seseorang tidak dapat berpretensi bahwa dengan mempelajari dan menguasai seperangkat ilmu kepemimpinan, ia telah menjadi pemimpin yang kompeten. Sebaliknya mengusai ilmu-ilmu lain tanpa ilmu kepemimpinan menyebabkan kepemimpinan seseorang menjadi tumpul. Kebenaran ini diperkuat dengan kenyataan bahwa apabila seseorang mempelajari ilmu kepepinan dan menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya, teapi ia tidak konsisten menerapkannya dalam kepemimpinan yang actual, maka ia bukanlah seorang pemimpin yang sejati.
Jakarta, Januari 2008
Dr. Yakob Tomatala
Pernyataan ini menunjuk pada adanya dua hal penting yang sangat mendasar, yaitu antara lain: Satu, elemen dasar kepemimpinan yang dapat ditemukan dimana-mana yakni: Pemimpin, Orang yang dipimpin, dan Situasi Kepemimpinan. Kedua, adanya tokoh-tokoh pemimpin yang telah membuktikan kinerja kepemimpinan yang gemilang sebagai praktisi kepemimpinan dalam lintasan sejarah. Dengan melihat unsur elemen dasar kepemimpinan dan adanya para tokoh pemimpin yang disebut di atas, maka dapat dibuktikan bahwa kepemimpinan sebagai seni telah dipraktekkan sejak lama.
Istilah sejarah (history – Inggris, yang berakar dari kata histor atau istor, eidenai, to know; historia – Latin/ Yunani, yang berarti learning by inquiry, knowledge, a narrative. Sejarah secara lengkap, harus dilihat sebagai kejadian atau fakta (histoire realite) dan sebagaimana dituturkan (histoire recite).
Bernard M. Bass, STOGDILL’S HANDBOOK OF LEADERSHIP., 1981, halaman 5.
Sebagai contoh, menurut Bernard M. Bass, Plato dalam tulisannya the Republic, mengklasifikasikan pemimpin dalam tiga tipe, yaitu: 1. Filosofer-negarawan yang memerintah dengan reason dan justice; 2. Pemimpin militer yang membela dan mendukung kehendak Negara; 3. Pebisnis yang menyediakan kebutuhan materi bagi warga Negara dan memuaskan kebutuhan rendah mereka. Loc. Cit. halaman 17. Walau pun demikian, karya Plato tidak dapat digolongkan sebagai karya kepemimpinan murni.
Untuk keterangan lengkap tentang lingkup studi kepemimpinan, lihat buku karya Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, tahun 1997, halaman 19-28.
Buku ini juga menyinggung tentang unsur-unsur dasar lain dari studi kepemimpinan.
Thomas Carlyle adalah keturunan Skotlandia yang lahir pada 4 Desember 1795- dan meninggal pada 6 Februari1881. Carlyle adalah penulis esai (essayist) dan sejarawan (historian) yang hidup sezaman dengan John Stuart Mill, filsuf dan ahli ekonomi Inggris (1806-1873). Karya besar Carlyle ialah buku French Revolution, dan buku sejarah A Complete History of Commonwealth. Tahun 1937-1840, ia diundang ke Amerika untuk memberikan kuliah mengenai German Literature dan On Hero and Hero Worship. Tulisan terakhir inilah yang dibukukan pada tahun 1841, yang merupakan bukuilmu kepemimpinan pertama yang berbicara tentang lingkup dasar studi kepemimpinan. Buku “On Hero and Hero Worship” ini diterbitkan di Amerika oleh Penerbit Adams, di Boston tahun 1907 (Grolier Encyclopedia).
Kepemimpinan secara dinamis telah berkembang begitu rupa mulai dari kepemimpinan klasik sampai dengan kepemimpinan baru pada Abad XXI yang disebut kepemimpinan global.
Lihat penjelasan B. M. Bass, Op. Cit., halaman 9.
Dalam literatur klasik Tiongkok, Jepang, India, dsb., dapat ditemukan penjelasan tentang pemimpin dan karakteristik pemimpin serta peran pemimpin dan pengembangan kepemimpinan (Lihat: Pembinaan pemimpin yang dikembangkan oleh kelompok Shaolin di Tiongkok), namun kepemimpinan sebagai suatu ilmu belumlah ditemukan di sini.
Lihat, J. Robert Clinton dalam Reader. Loc. Cit.
Para teorisian dalam Great Man Era cenderung menunjuk kepada pemimpin dengan memberikan penekanan pada faktor biologis, sosiologis dan cultural bawaannya sebagai landasan teoritis.
Teorisian pada Era Trait menunjuk kepada karakteristik-karakteristik kepemimpinan yang ada pada pribadi pemimpin sebagai landasan teoretis. Bernard M. Bass mengidentifikasi beberapa kecenderungan dari pandangan mereka antara lain, bahwa para pemimpin pada era ini cenderung memandang pemimpin sebagai fokus dari perubahan kelompok, aktivitas dan proses kepemimpinan. Tokoh-tokoh teorisian ini antara lain, Mumford (1906-1907), Blackmar (1911), Chapin, (1924), L.L. Bernard (1927), M. Smith (1934), J.F. Brown (1936), Redl (1942) dan Kretch and Crutchfield (1948). Ibid, halaman 7-8.
Lihat B.M. Bass, Ibid., halaman 3-40; J.R. Clinton, Reader. Op. Cit. halaman 7-45; Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis. Tahun 1997., halaman 1-39; Banding: R.L. Hughes, Et. Al., LEADERSHIP: Enhancing the Lessons of Experience. Tahun 2001., halaman 3-76 (lihat halaman 22-47).
Studi kepemimpinan mulai marak di Indonesia pada tahun sembilan puluhan, dengan munculnya upaya dan gerakan yang terlibat dalam pengembangan kepemimpinan melalui pelatihan informal-non-formal serta institusi-institusi pendidikan. Tonggak studi kepemimpinan dalam lingkungan Kristen mulai diperhatikan dengan serius tatakala Departen Agama RI, dalam hal ini BIMAS Kristen untuk pertama kali menyelenggarakan Seminar Sehari tentang Kepemimpinan Kristen pada tanggal 5 Agustus 2002, dimana penulis adalah penceramah utama.
|
 |